PANDUAN SPARING Panduan SPARING

Kapan Data Harian SPARING Dapat Dinilai Sahih?

Data harian SPARING dinilai sahih jika kelengkapan mencapai minimal 75 % dari data terukur dalam satu hari. Pelajari perhitungan dan pencegahannya.

Satu hari tanpa kelengkapan data yang memadai berarti satu hari yang datanya dianggap tidak ada. Bagi perusahaan yang wajib menjalankan SPARING, memahami kapan data harian SPARING dinilai sahih bukan sekadar pengetahuan teknis — ini menentukan apakah catatan pemantauan perusahaan dapat digunakan dalam pelaporan resmi.

Regulasi menetapkan kriteria yang jelas: validitas data harian SPARING ditentukan oleh kelengkapan data terukur yang mencapai paling sedikit 75 % dalam satu hari (PermenLHK P.93/2018 Pasal 18 ayat (3)). Artikel ini menjelaskan bagaimana angka tersebut dihitung, faktor apa yang memengaruhi kelengkapan, dan langkah apa yang dapat dilakukan agar data tetap di atas ambang batas.

Syarat Regulasi agar Data Harian Dinilai Sahih

Penilaian sahih tidaknya data harian SPARING mengikuti rantai ketentuan dalam tiga pasal di PermenLHK P.93/2018. Ketiga pasal ini saling terkait dan tidak dapat dibaca secara terpisah.

Pasal 17 mengatur interval perekaman dan pengiriman:

  • Alat SPARING wajib merekam data paling sedikit setiap 2 menit sekali (ayat 1).
  • Data hasil pengukuran dikirimkan ke server Kementerian LHK paling sedikit setiap 5 menit sekali (ayat 2).

Pasal 18 mengatur cara menghitung data harian dan syarat kelengkapannya:

  • Data harian diperoleh dari rata-rata data terukur selama 24 jam, yaitu dari pukul 00.00 sampai dengan pukul 23.59 WIB, WITA, atau WIT sesuai lokasi (ayat 2).
  • Data harian dapat digunakan apabila kelengkapan data paling sedikit 75 % dari data terukur dalam satu hari (ayat 3).

Pasal 19 menetapkan konsekuensinya:

  • Data yang memenuhi persyaratan Pasal 17 dan Pasal 18 dinilai sahih sebagai data hasil pemantauan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan (ayat 1).
  • Data yang tidak memenuhi persyaratan dianggap tidak ada data (ayat 2).

PermenLHK P.80/2019, yang merupakan perubahan atas P.93/2018, mengubah Pasal 1, Pasal 2 ayat (2), Pasal 5 ayat (1) huruf c, serta Lampiran I sampai III. Pasal 17, 18, 19, dan Lampiran V tentang tata cara perhitungan kelengkapan data tidak termasuk dalam perubahan tersebut, sehingga ketentuannya tetap berlaku.

Berapa Banyak Data yang Harus Terekam dalam Satu Hari?

Angka 75 % menjadi konkret ketika dihubungkan dengan interval perekaman. Dengan perekaman setiap 2 menit sebagaimana disyaratkan Pasal 17, jumlah data point maksimum dalam satu hari dapat dihitung:

KomponenNilai
Durasi satu hari24 jam = 1.440 menit
Interval perekaman minimum2 menit
Data point maksimum per hari1.440 ÷ 2 = 720 data point
Ambang kelengkapan75 %
Data point minimum agar sahih720 × 75 % = 540 data point

Artinya, dari 720 data point yang mungkin terekam dalam satu hari, paling sedikit 540 harus tersedia agar data harian untuk parameter tersebut dinilai sahih.

Penting untuk membedakan dua interval yang berbeda. Interval perekaman (2 menit) menentukan seberapa sering sensor mencatat data secara lokal. Interval pengiriman (5 menit) menentukan seberapa sering data dikirim ke server Kementerian LHK. Kelengkapan data dihitung berdasarkan data terukur — yaitu data yang berhasil direkam oleh perangkat — bukan semata-mata data yang berhasil dikirim ke server.

Perhitungan 720 dan 540 di atas merupakan turunan dari ketentuan regulasi, bukan angka yang secara eksplisit disebutkan dalam pasal. Lampiran V P.93/2018 mengatur tata cara perhitungan kelengkapan data lebih lanjut.

Kondisi yang Dapat Mengurangi Kelengkapan Data

Beberapa kondisi operasional dapat menyebabkan jumlah data terukur dalam satu hari turun di bawah ambang 540 data point. Memahami kondisi ini membantu tim operasional mengidentifikasi risiko sebelum kelengkapan terganggu.

Gangguan catu daya. Jika sumber listrik utama padam dan cadangan daya habis, sensor dan Datalogger (perangkat pencatat data) berhenti merekam. Geovos SPARING dilengkapi Panel Surya 150 WP dan Backup Battery 36 Ah, tetapi durasi cadangan bergantung pada konsumsi daya di setiap lokasi. Konfigurasi catu daya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

Gangguan koneksi internet. Ketika koneksi ke server Kementerian LHK terputus, data tidak terkirim selama periode gangguan. Namun, gangguan koneksi tidak selalu berarti data tidak terekam — perangkat dapat tetap merekam data secara lokal meskipun tidak terhubung.

Kalibrasi dan perawatan. Selama proses kalibrasi, sensor mungkin dalam kondisi tidak normal dan tidak menghasilkan data terukur yang valid. P.93/2018 Pasal 8 mengidentifikasi kalibrasi peralatan sebagai salah satu kondisi tidak normal. Durasi kalibrasi yang panjang pada hari yang sama dapat mengurangi jumlah data point yang tersedia.

Kerusakan sensor. Sensor yang rusak atau beroperasi di luar rentang tidak menghasilkan data terukur. Kerusakan yang tidak segera terdeteksi dapat menyebabkan hilangnya data selama berhari-hari.

Gangguan Datalogger. Jika perangkat pencatat data mengalami error atau restart, perekaman terhenti sementara. Frekuensi dan durasi gangguan ini bervariasi tergantung pada kondisi perangkat dan lingkungan operasional.

Bagaimana Offline Storage Membantu Mempertahankan Kelengkapan?

Salah satu skenario yang perlu dipahami: koneksi internet terputus selama beberapa jam, tetapi sensor dan Datalogger tetap menyala dan merekam data. Dalam situasi ini, data tetap tersimpan secara lokal.

Geovos SPARING mendukung Offline Storage hingga 2 tahun. Selama perangkat tetap merekam, data disimpan di penyimpanan lokal meskipun tidak terkirim ke server. Setelah koneksi pulih, data dikirim ulang dengan timestamp asli yang dipertahankan — artinya server menerima data dengan waktu perekaman yang benar, bukan waktu pengiriman.

Ini berarti gangguan koneksi tidak otomatis menyebabkan kehilangan data terukur, selama perangkat tetap beroperasi. Yang hilang hanya pengiriman ke server, dan ini dapat dipulihkan.

Namun, Offline Storage tidak melindungi dari kehilangan data yang disebabkan oleh:

  • Perangkat mati total karena habisnya catu daya.
  • Sensor rusak dan tidak menghasilkan pembacaan.
  • Datalogger mengalami kegagalan perangkat keras.

Perbedaan ini penting: “tidak terkirim” berbeda dengan “tidak terekam.” Offline Storage mengatasi yang pertama, bukan yang kedua. Konfigurasi catu daya, jaringan, dan perangkat tetap perlu disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi.

Dampak Data Harian Tidak Sahih terhadap Pelaporan Bulanan dan Tahunan

Data harian yang tidak sahih memiliki efek berantai. Pasal 18 P.93/2018 mengatur bahwa data bulanan diperoleh dari rata-rata data harian yang memenuhi syarat kelengkapan 75 % dalam satu bulan (ayat 4). Demikian pula, data tahunan diperoleh dari rata-rata data harian yang memenuhi syarat dalam satu tahun (ayat 5).

Jika data harian tidak mencapai ambang 75 %, hari tersebut dianggap tidak ada data. Hari tersebut tidak masuk dalam perhitungan rata-rata bulanan — bukan dihitung nol, melainkan dikecualikan.

Sebagai ilustrasi sederhana: jika dalam satu bulan terdapat 30 hari, tetapi 8 hari tidak memenuhi syarat kelengkapan, maka rata-rata bulanan hanya dihitung dari 22 hari yang sahih. Jumlah hari sahih yang sedikit dapat memengaruhi representativitas data bulanan.

Situasi ini menunjukkan mengapa menjaga kelengkapan data harian secara konsisten lebih efektif daripada mencoba memperbaiki data setelah periode pelaporan berakhir. Data yang sudah tidak terekam tidak dapat diciptakan kembali.

Langkah Pencegahan agar Kelengkapan Data Tetap di Atas 75 %

Beberapa langkah operasional yang dapat membantu mempertahankan kelengkapan data harian:

  • Periksa riwayat data di Dashboard secara berkala. Identifikasi hari-hari dengan kelengkapan rendah dan cari polanya — apakah terjadi pada waktu tertentu, hari tertentu, atau setelah kejadian tertentu.
  • Pantau status catu daya cadangan. Pastikan Panel Surya dan Backup Battery berfungsi optimal. Lakukan pemeriksaan rutin sesuai kondisi lokasi.
  • Jadwalkan kalibrasi dengan mempertimbangkan kelengkapan. Karena kalibrasi dapat menyebabkan periode tanpa data terukur, pertimbangkan untuk menjadwalkan kalibrasi agar tidak menumpuk dengan gangguan lain pada hari yang sama.
  • Pantau koneksi jaringan. Meskipun Offline Storage melindungi dari kehilangan data akibat gangguan koneksi, koneksi yang sering terputus perlu diselidiki untuk mencegah masalah yang lebih besar.
  • Identifikasi dan tanggapi indikasi kerusakan sensor lebih awal. Data yang menunjukkan pembacaan di luar rentang atau pola tidak wajar dapat menjadi tanda awal kerusakan.
  • Dokumentasikan setiap gangguan. Catatan tentang kapan dan mengapa kelengkapan data menurun membantu perencanaan pencegahan di periode berikutnya.

Langkah-langkah ini membantu mempertahankan kelengkapan, tetapi tidak menjamin angka 75 % selalu tercapai. Konfigurasi akhir perangkat — termasuk sensor, catu daya, jaringan, instalasi, dan integrasi — harus disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi.

Jika perusahaan memerlukan konsultasi tentang konfigurasi SPARING yang sesuai dengan kondisi lokasi, informasi kontak tersedia di halaman Kontak.

FAKTA / 01 Referensi produk

Fakta teknis yang digunakan pada seluruh website.

Nilai berikut dibaca dari satu sumber bersama agar angka teknis tidak berbeda di setiap artikel.

pH
0–14 unit
COD
0,1–5.000 mg/L
TSS
0–3.000 mg/L
NH4
0–1.000 mg/L
Debit
Dikonfirmasi per lokasi
Kapasitas Panel Surya
150 WP
Kapasitas Backup Battery
36 Ah
Offline Storage saat koneksi terputus
Hingga 2 tahun
Jaringan yang didukung
2G / 3G / 4G
Saluran notifikasi
Email / WhatsApp

LANGKAH BERIKUTNYA Evaluasi lokasi

Cocokkan informasi artikel dengan kondisi lokasi Anda.

Sampaikan parameter, titik pengukuran, listrik, jaringan, dan kebutuhan data agar rekomendasi tidak dibuat berdasarkan perkiraan.

Kontak resmi tersedia

Pesan diarahkan ke nomor WhatsApp resmi yang dikelola Fortuna Argatech.

Konsultasi via WhatsApp